KOMPLEKSITAS
PARTICIPE PRÉSENT/LE PARTICIPE PRESENT DANS SA COMPLEXITE
Irzanti Sutanto - Universitas Indonesia
RÉSUMÉ
Le participe présent, très couramment utilisé à l’écrit, pose souvent des problèmes
aux apprenants indonésiens. Malgré les explications que l’on peut trouver dans
les livres de grammaire, son emploi qui est censé pouvoir remplacer un verbe
precédé du pronom relatif “qui” est toujours hésitant. A partir d’un corpus
assez riche et à l’aide de deux locuteurs natifs, l’auteur de cet article essaie
de faire une analyse afin d’avoir une réponse plus rassurante.
Pendahuluan
Seperti kita ketahui, bahasa Indonesia dan bahasa Prancis berasal dari rumpun
yang berbeda. Dengan demikian, tidaklah mengherankan apabila sistem kedua bahasa
tersebut sangat berbeda, meskipun ada sedikit persamaan, antara lain Hukum DM.
Dalam mempelajari bahasa Prancis, sebagai penutur asing (dalam hal ini penutur
bahasa Indonesia), saya menghadapi berbagai masalah yang belum dapat diselesaikan
dengan tuntas. Hal tersebut disebabkan antara lain oleh jarangnya kontak langsung
dengan penutur asli dan penggunaan yang tidak terus menerus. Masalah yang timbul
pada umumnya mengenai konsep-konsep yang berkaitan dengan cara berpikir dan
cara hidup. Yang terakhir ini dipengaruhi oleh budaya dan alam tempat kita hidup.
Misalnya, sistem kala dalam bahasa Prancis yang jauh lebih rinci dan dinyatakan
secara berbeda dibandingkan dengan sistem kala dalam bahasa Indonesia sehingga
penutur bahasa Indonesia mempunyai kesullitan dalam menguasai (terutama dalam
penggunaannya) dengan baik karena sistem kala tersebut bukan sekadar kumpulan
kaidah gramatikal, tetapi justru merupakan cermin cara berpikir penutur bahasa
Prancis. Namun, tidak berarti bahwa masalah tersebut tidak dapat dijelaskan
secara linguistik, mengingat demikian luasnya cakupan linguistik dan kajian
lintasilmu. Saya tidak mengingkari adanya penelitian mendalam mengenai pokok
bahasan tulisan ini di negara Prancis sendiri. Tulisan ini ingin mencari jawaban
dari masalah yang dihadapi oleh penutur bahasa Indonesia yang belum tentu merupakan
masalah bagi penutur asli bahasa Prancis atau pun penutur bahasa lainnya.
Pokok Bahasan
Pada kesempatan ini, tulisan ini akan membahas penggunaan participe présent
(verba), bukan bentuknya. Telah diketahui bahwa participe présent dapat termasuk
ke dalam dua kelas kata, yaitu verba dan ajektiva. Bagi saya, penggunaan participe
présent yang merupakan verbalah yang masih belum tuntas kejelasan penggunaannya.
Pokok bahasan ini diangkat karena di dalam mengajarkan bahasa Prancis, saya
merasa ada yang kurang jelas. Kaidah-kaidah gramatikal yang terdapat di dalam
buku tata bahasa dan buku ajar tidak menjelaskan hal-hal yang menjadi pertanyaan
saya. Pertanyaan muncul dari kalimat-kalimat yang dibuat mahasiswa. Sebagai
pengajar, sering ada keraguan untuk menentukan apakah ini benar atau salah.
Diskusi antarpengajar -penutur bahasa Indonesia- tidak membuahkan hasil yang
memuaskan. Pada umumnya, jawaban selalu diawali dengan kata : “Mungkin....”.
Oleh karena itu, saya membuat kuesioner dengan harapan ada secercah penjelasan.
Hasil penelitian ini, selain bertumpu pada kaidah yang terdapat dalam buku-buku
tata bahasa dan buku ajar bahasa Prancis, juga bertumpu pada kuesioner yang
diisi oleh dua orang penutur asli bahasa Prancis. Namun demikian, perlu saya
kemukakan terlebih dahulu bahwa penelitian kecil ini merupakan penelitian awal
yang memerlukan penelitian dengan data yang lebih luas dan kajian lebih mendalam
lagi. Pertama-tama, akan dikemukakan kaidah yang terdapat di dalam buku-buku
tata bahasa dan beberapa buku ajar bahasa Prancis, kemudian akan dipaparkan
hasil analisis kuesioner.
Masalah
1. Berkaitan dengan kaidah bahwa participe présent mempunyai makna sama (dapat
digantikan dengan) dengan klausa berpronomina relatif qui, apakah kedua bentukan
tersebut dapat saling menggantikan pada semua konteks?
2. Apabila jawaban untuk masalah (1) adalah TIDAK, kaidah apa yang membatasinya?
Tujuan
Tulisan ini bertujuan:
1. merangkum kaidah mengenai participe présent sebagai verba dari berbagai buku
tata bahasa dan buku ajar bahasa Prancis,
2. mengidentifikasi konteks tempat participe présent bermakna sama dengan klausa
berpronomina qui.
Sumber Data
Kuesioner terdiri atas kalimat-kalimat yang diambil dari beberapa buku ajar
berikut:
-Libre Échange 1, karangan J. Courtillon dan G.D. de Salins. 1995.
-Libre Échange 2, karangan J. Courtillon dan G.D. de Salins. 1991
-Campus 2, karangan Jacky Girardet dan Jacques Pécheur. 2002.
Alasan pemilihan buku ajar tersebut sangat sederhana, yaitu, pertama, kedua
buku pertama tersebut pernah dipakai sebagai buku ajar selama hampir 8 tahun.;
sedangkan yang ketiga dipakai sebagai gantinya. Camus 1 tidak dipakai sebagai
sumber data karena di dalam jilid itu, participe présent belum digunakan.
Kuesioner
Kalimat yang diambil mengandung klausa berpronomina relatif qui, kemudian verba
pada klausa tersebut diganti dengan participe présent (sesuai dengan kaidah
gramatikal). Kalimat yang berhasil dikumpulkan berjumah 68 buah. Informan menjawab
apakah klausa tersebut dapat diganti atau tidak. Baik untuk jawaban YA atau
TIDAK, ia diminta untuk memberi alasan yang diketahuinya.
Jawaban para informan diklasifikasi berdasarkan:
(1) dapat atau tidak dapatnya klausa dengan qui diganti dengan participe présent,
(2) alasan yang diberikan. Dari hasil klasifikasi tersebut, diharapkan ada temuan
lain, selain kaidah yang sudah tercantum di dalam buku-buku tata bahasa dan
buku ajar.
Informan
Kuesioner dijawab oleh dua orang penutur asli bahasa Prancis : seorang wanita
dan laki-laki. Yang pertama berlatar belakang pendidikan dalam pengajaran bahasa
Prancis sebagai bahasa asing; yang kedua berlatar belakang pendidikan dalam
bidang akuntansi. Saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua
orang teman saya itu atas pemikiran yang telah dicurahkan dan waktu yang telah
diluangkan untuk kepentingan penelitian ini.
RANGKUMAN KAIDAH GRAMATIKAL PARTICIPE PRÉSENT
Buku-buku tata bahasa dan buku ajar bahasa Prancis yang menjadi sumber tulisan
ini dapat dilihat pada daftar pustaka. Semua contoh diambil dari pustaka sumber
tersebut dan beberapa karya sastra. Pada setiap akhir kalimat, ada halaman dan
kode sumber yang dapat dilihat pada daftar pustaka. Paparan ini, selain merupakan
rangkuman kaidah dari beberapa sumber, saya juga menyisipkan kesimpulan saya.
Kaidah participe présent (untuk selanjutnya disingkat menjadi pp) pada umumnya
terdapat di dalam rubrik tata bahasa. Buku acuan berjudul Le bon usage memiliki
penyajian yang agak berbeda. Selain memberi penjelasan gramatikal, buku itu
pun memaparkan aspek sejarah dan penggunaan dalam konteks tertentu. Yang terakhir
ini, bukanlah kaidah tata bahasa, melainkan penjelasan pragmatis dan semantis.
Oleh karena itu, saya mengklasifikasi informasi mengenai kaidah pp atas: kaidah
wacana, kaidah semantis dan kaidah gramatikal.
A.KAIDAH WACANA
Saya memulai dengan kaidah ini karena kaidah ini menempatkan penggunaan pp sehingga
secara logis pp di sini mengikuti kaidah gramatika yang akan dipaparkan kemudian.
Pp digunakan sebagai:
a. penanda ragam resmi tulis di bidang jurnalistik, administrasi,
serta surat menyurat.
Contoh:
(1) Cherchons vendeuse parlant anglais. (MB,78)
(2) N’ayant pas reçu à cette date de confirmation, nous annulons notre réservation.
(MB,78)
(3) “Votre télex de ce jour concernant votre commande du 16 mai... (SC,80)
(4) A l’origine, la structure était extrêmement simple, M. R. Brun se limitant
à la revente de vêtements achetés en France et à l’étranger. (SC,138)
(5) Nous venons de recevoir la facture correspondant à la livraison des 8 000
boîtes de petits pois... (SC,140)
(6) L’arrivée de ces deux jeunes hommes se traduisait en 1964 par une refonte
totale des structures de l’entreprise, amenant notamment à la création d’un
service marketing fonctionnel ... (SC, 148)
b. penanda ragam kesusastraan (style soutenu; Kridalaksana,
1993:184).
(7) C’est Moïse flottant dans un cercueil fragile Sur l’onde, au hasard des
courants. (Lamartine, GF,320)
(8) La pluie tombait à flot, une pluie en biais,
épaisse comme un rideau, formant une sorte de mur à raies obliques,..., noyant
tout... . (MAUP,5,6)
(9) Et tout à coup, lâchant ce qu’elle tenait aux mains,
elle saisit la tête inerte de son amant, et regarda longuement,...; puis s’abattant
sur lui, elle l’étreignit à pleins bras... (MAUP,102)
(10) Il avait le spectacle
tranquille des bêtes allant librement à leurs afffaires, à leurs plaisirs. (A.Daudet.
GF,320)
(11) Deux servants, lâchant leurs culasses, s’étaient jetés en avant.
(Cl. Farrère, BU, 899) Karena penggunaan inilah, tidak semua buku ajar bahasa
Prancis mencantumkan kaidah pp. Berdasarkan kedua kaidah wacana ini, penggunaan
pp di luar ragam tersebut di atas, dianggap berkesan “berat” (lourd; bergaya
bahasa yang membuat pembaca tidak santai menikmati bacaannya). Bahkan di dalam
karya sastra yang banyak menggunakan pp pun ada anggapan yang sama dari penutur
bahasa Prancis. Namun, anggapan ini tidak menghalangi seorang pengarang karya
sastra untuk menggunakan banyak pp.
B. KAIDAH SEMANTIS
Kaidah-kaidah semantis ini erat hubungannya dengan kedua kaidah wacana, teruta-ma
ragam kesusasteraan. a. Pp mengandung corak dari suatu tindak yang ‘tengah berlangsung’.
Hal ini dimanfaatkan di dalam dunia pertunjukan dan karya sastra sebagai alat
deskripsi. Contoh:
(12) Ils continuèrent leur route, allant toujours sans savoir
où ils allaient... trompant l’ennui et la fatigue par le silence et le bavardage.
(Diderot, GF.321)
(13) Je la suivis, montant rapidement l’escalier de bois qui
conduisait à la chambre. (G.De Nerval, GF.321)
(14) Monsieur de Pourceaugnac,
donnant de l’argent à Sbrigani. (Molière. GF,321)
(15) Bazile, les regardant
tous. (GF,321)
(16) Nous allions, ne songeant à rien. (BU,900) Beberapa pp yang
terdapat berurutan menyatakan tindak yang berurutan. Contoh:
(17) Un boucher
coupant, tranchant, élaguant,façonnant, ficelant vaut un danseur, un mime. (Colette,
GFC.375) Dari contoh-contoh tersebut terlihat bahwa kalimat bersubjek satu.
Karena pp dapat merupakan alat deskripsi, kaidah ini berdampak pada kaidah berikut
ini. b. Pp dapat digunakan apabila ada dua tindak yang terjadi pada waktu yang
bersamaan, meskipun salah satu tindak terjadi lebih dahulu.Tindak dilakukan
oleh pelaku berbeda. Ini berkaitan dengan verba tertentu, misalnya: voir, regarder,
entendre, écouter, apercevoir. Contoh:
(18) Nous le voyons lisant. (BU,894)
(19) Je n’entendis plus que les plumes courant sur des papiers. (BU,899)
(20)
Gérard réveilla ses fils dormant. (BU,895)
(21) Dans la re de Bourgogne, il
dépassa ses camarades regagnant leurs cantonnements (Aragon, GFC.375)
(22) S’ils
apercevaient l’eau bouillonnant, et luisant sous le soleil du matin. (Maupassant.
BU,899) Pertemuan antara dua tindak dapat digambarkan berikut ini: Dengan demikian,
ada saat tertentu dua tindak terjadi bersamaan. Pada kasus ini, saya berpendapat
bahwa dalam ujaran dengan dua pelaku, tindak yang diungkapkan dengan pp merupakan
tindak yang terjadi lebih dahulu: - Il est en train de lire. Nous le voyons.
- Les plumes courent sur des papiers. Je n’entendis plus que les plumes. - Ils
sont en train de dormir. Gérard les réveille. - Ses camarades regagnent leurs
cantonne- ments. Il dépassa ses camarades. Hal ini perlu dijelaskan untuk membedakan
dengan konsep gérondif. Karena corak tindak ‘tengah berlangsung’ dan fungsinya
sebagai alat deskripsi, pp sering dipakai setelah verba aller (kata bantu/auxiliaire).
Contoh:
(23) L’eau stagnante, à l’arrière, semblait tendue d’une belle soie
moirée qui allait se déchirant en longues bavures verdâtres. (R. Boylesve. GF,321)
(24) Les ennemis de Racine allaient disant qu’il savait peindre l’amour... (Ê.
Faguet. BU,900)
(25) Quelle fut cette musique mystérieuse et qui s’en va déclinant?
(M.Barrès. BU,900)
C. KAIDAH GRAMATIKAL
a. Pp digunakan untuk membentuk sebuah konstruksi absolut sebagai klausa yang
berdiri sendiri atau sebagai klausa subordinatif. Konstruksi ini pada umumnya
digunakan pada teks beragam kesusastraan (style soutenu).
Contoh:
(26) Des discours plaisant à chacun. (E. Fromentin.BU,899)
(27) Monsieur de Pourceaugnac, donnant de l’argent à Sbrigani. (Molière. GF,321)
(28) Et bientôt, Paris disparaissant, il poussa un gros soupir. (Flaubert,GFC.375)
(29) La répétition double ou multiple de certaines syllabes sourdes ou sonores
se correspondant. (E. Fromentin.BU,900)
(30) Les circonstances aidant, nous réussirons. (BU,900) Penggunaan konstruksi
absolut ini dapat berdampak pada kaidah berikut. b. Klausa yang mengandung pp
berstatus klausa subordinatif yang menyatakan: b.1 keterangan waktu (circonstanciel
de temps).
Contoh:
(31) Sa nièce arrivant, c’était le feu dans la maison. (G. De Nerval,GF.320)
Pada contoh ini, klausa yang mengandung pp merupakan pelengkap yang menyiratkan:
Quand sa nièce arrivait... b.2 syarat (la supposition).
Contoh:
(32) Dieu aidant, nous vaincrons. (BU,944) Pada contoh ini, klausa yang mengandung
pp merupakan pelengkap yang menyiratkan: Si Dieu aidait...
(33) Le cas échéant, que faut-il faire? (BU,944) Pada contoh ini, klausa yang
mengandung pp merupakan pelengkap yang menyiratkan: Si le cas échouait...
(34) J’observe comme vous cent choses tous les jours. Qui pourraient mieux aller
prenant un autre cours. (Molière,GFC.376) Pada contoh ini, klausa yang mengandung
pp merupakan pelengkap yang menyiratkan: Si elles prenaient... c. Sebagai pewatas
(pemberi keterangan) nomina yang terdapat sebelumnya, pp dapat diganti dengan
klausa berpronomina relatif qui,Contoh:
(35) Les étudiants ayant réussi au concours trouveront du travail. (= Les étudiants
qui ont réussi...) (C.2, 105)
(36) Les élèves ayant le baccalauréat peuvent s’inscrire à l’université. (=
Les élèves qui ont...) (MG, 148)
(37) Toutes les personnes faisant partie de notre club sont invités à une soirée
le samedi 15 mars. (MG,149)
(38) C’est un sportif ayant des qualités techniques rares. (= C’est un sportif
qui a des qualités .....) (MB, 78)
(39) C’est un tableau représentant la Nativité. (MB,79)
(40) Les candidats ayant obtenu le plus de voix se présenteront au deuxième
tour des élections. (MB, 79) Konteks di atas memperlihatkan bahwa pp digunakan
terutama dalam teks administratif. Hanya pp sebagai pewatas dan tidak bermakna
deskriptif yang dapat diganti dengan klausa berpronomina relatif qui. Secara
logis, contoh (41) sampai (45) di bawah ini tidak dapat diganti dengan klausa
berpronomina relatif qui, melainkan harus diganti dengan klausa dengan konyungsi
kausal seperti comme atau parce que. Demikian pula, konstruksi pada kaidah wacana
dan semantis tidak berkaitan dengan dapat atau tidak dapatnya diganti dengan
klausa berpronomina qui karena fungsinya sebagai alat deskripsi dan corak tindak
‘tengah berlangsung’ yang dikandungnya. d. Pp digunakan dalam kalimat berklausa
dua untuk menyatakan sebab-akibat. Subjek klausa dapat sama atau berbeda.
Contoh:
(41) Le ciel étant nuageux, nous resterons à la maison dimanche. (C.2, 105)
(42) Ayant vécu en Asie, Marie situe souvent ses romans dans cette région. (MB,
78) La pluie tombant très fort, nous avons dû rentrer. (MB,78)
(43) Paul Pignon prenant sa retraite en juin, c’est moi qui lui doit succéder.
(C.2, 104)
(44) Nos invités s’étant excusés, nous avons annulé la soirée. (NSF.3,166)
(45) Les rivets de fixation ayant sauté, la construction menace de s’écrouler.
(NSF.3,166) Pada kaidah ini, saya berpendapat bahwa klausa yang mengandung pp
merupakan sebab, klausa lainnya merupakan akibat. Perlu ditambahkan di sini
bahwa kalimat dengan pp yang bermakna kausal, ada yang dapat berfungsi sekaligus
sebagai pewatas sehingga dapat diganti dengan klausa berpronomina relatif qui
(contoh 42). Dalam hal ini, pp bermakna ganda dalam konteks tertentu. Topikalisasi
dapat digunakan untuk menentukan makna utama kalimat tersebut. Dengan kata lain,
maksud utama penutur -memberi keterangan (pada nomina) atau menyatakan sebab-akibat
menjadi penentu fungsi pp sebenarnya. Secara gramatikal, pp pada kalimat-kalimat
semacam itu dapat dipandang dari kedua sudut pandang: sebab-akibat dan/atau
pewatas.
ANALISIS DATA
Dalam analisis data diperhatikan dua hal, yaitu, pertama, hal yang menjadi masalah
penelitian ini; kedua, temuan lain yang diperoleh dari jawaban informan.Contoh
diambil dari kuesioner. Berdasarkan jawaban para informan, berikut ini dipaparkan
alasan tidak dapatnya klausa berpronomina qui diganti dengan suatu konstruksi
dengan pp. Bertumpu pada kaidah-kaidah tersebut di atas, klausa berpronomina
qui dan pp ti-dak selalu sejajar atau bermakna berbeda dan tidak selalu merupakan
dua bentuk yang dapat saling menggantikan tanpa mengubah makna.
I. Kriteria penggunaan qui yang tidak dapat diganti dengan
pp.
a. Penggantian dengan pp menyebabkan makna berubah menjadi deskriptif.
Contoh:
(46) Et comment se fait-il que les pauvres se tiennent bien tranquilles, à
côté des riches qui courent après on ne sait quoi?
(47) Une chose qui peut paraître “bizarre”, par exemple, c’est
la fonction sociale du temps...
(48) Les standardistes qui travaillent, elles, depuis neuf heures du matin,
sont maintenant rentrées chez ellles. (49) Mais le plus bizarre encore,
c’est de trouver un Parisien qui arrive à l’heure.\
(50) Trouvez les expressions qui parlent du temps et des horaires en particulier.
(51) Les marrées noires, qui nous indignent à juste titre, ne
sont pas un drameécologique irréversible.
(52) Le citoyen qui pénètre dans un commissariat de police me
fait penser à un archer prêt à partir pour la guerre de
Cent Ans.
(53) Cette description exige des comparaisons avec “comme”, pour
suggérer des images plus frappantes (belle comme un enfant qui dort)
Yang dimaksud dengan pewatas adalah fungsi klausa dengan qui menjelaskan ciri
nomina sebelumnya.
Contoh:
(54) Vous pouvez aussi entendre un homme politique, un chef d’État
qui vous parle de Moscou comme si vous y étiez.
Apabila qui parle diganti dengan pp, yaitu parlant, verba ini mendeskripsikan
apa yang tengah dilakukan seorang kepala negara. Konteks secara keseluruhan
menolak makna ini. Qui digunakan untuk menentukan chef d’État yang
dimaksud, yaitu chef d’État yang membicarakan Moskow. Inilah yang
dimaksud dengan fungsi klausa dengan qui sebagai pewatas.
Pada contoh lain:
(55) Dans le hall de la gare, il rencontre une tzigane qui lui lit les lignes
de la main.
Urutan terjadi dari rencontre kemudian lit. Apabila diganti dengan pp:
Dans le hall de la gare, il rencontre une tzigane lui lisant les lignes de la
main.
Makna kalimat menjadi tidak logis karena menyiratkan tindak lit yang tengah
ber langsung terjadi bersamaan dengan rencontre.
Pada contoh lain lagi, apabila qui diganti dengan pp, makna menjadi kausal.
(56) La dame qui a reçu cette lettre n’y comprend rien.
Apabila qui a reçu diganti dengan pp, yaitu ayant reçu, makna
kalimat menjadi kausal yang dengan konteks tersebut tidak dapat diterima karena
tidak logis.
Dalam hal semacam ini, kontekslah yang menentukan.
b. Qui yang mewatasi nomina yang menjadi bagian dari fungsi
keterangan (tempat, waktu).
Contoh:
(57) En 496, il se fit baptiser à Reims qui devint ainsi le berceau de
la monarchie franque.
Di sini qui tidak dapat diganti dengan pp pada kalimat ini karena qui devint
menjelaskan Reims. Apabila diganti dengan pp, verba devenant mengacu kepada
subjek kalimat il, tidak mungkin menjadi predikat dari Reims karena à
Reims menduduki keterangan tempat.
(58) Comment enseigner l’histoire des États-Unis sans parler de
l’apport des communautés qui les constituent?
Apabila qui constituent diganti pp, makna menjadi taksa: kemana verba constituant
mengacu? ke communautés atau ke États-Unis? Dengan menggunakan
qui, jelas bahwa constituent mengacu ke communautés yang merupakan bagian
dari frase l’apport des communautés. Sama seperti à Reims
di atas, frase ini tidak menduduki fungsi utama.
c. Verba setelah qui menyatakan suatu keadaan yang tetap.
contoh:
(59) Nous voulos arriver ensemble au sommet du Shisha Pangma, qui culmine à
8 046 m... .
(60) Les Suisses, grâce à leur centre international pour l’environnement
alpin qui siège à Genève, donnent l’exemple à
l’Europe dans la lutte écologique contre la pollution des eaux.
(61) On dit de quelqu’un qui nous fait une visite très brève:”il
est passé en coup de vent”.
(62) La raison a des difficultés à renverser les barrières
culturelles qui lui servent de ligne de démarcation.
(63) En premier lieu, le logement ne correspondait pas à celui qui figure
dans votre catalogue.
(64) La langue anglaise, c’est ce qu’ont en commun les gens qui
sont ici.
Dalam hal ini, keadaan yang tetap dioposisikan dengan deskripsi yang tengah
berlangsung. Jadi, apabila klausa dengan qui diganti dengan pp, akan terjadi
perubahan makna, yaitu menjadi deskripsi dan tengah berlangsung. Perubahan makna
belum tentu sesuai dengan konteks dan maksud penulis.
d. Verba setelah qui menyatakan suatu tindak pungtual dan/atau
verba tersebut berkala lampau (passé simple, passé composé,
imparfait)
Contoh:
(65) ... je ne revois en pensée ... le frère
infortuné qui me donna un nom que j’ai traîné dans
le malheur.
(66) Le citoyen qui pénètre dans un commissariat de police me
fait penser à un archer prêt à partir pour la guerre de
Cent Ans.
(67) La substituion des énergies douces au nucléaire fait sourire
tout le monde, à l’exception peut-être des gogos qui se gèlent
chaque hiver.
(68) Le pays fut, une fois de plus, colonisé par des Celtes qui lui imposèrent
la religion chrétienne...
(69) Je ne crois pas que l’on puisse parler aujourd’hui de melting-pot,
qui supposait que nous allions tous devenir des “anglo-américains
blancs”.
(70) La dame qui habitait là est morte.
e. Qui diikuti dengan bentuk pasif atau verba dalam passé composé
dengan kata bantu être:
(71) Les Beurs sont peu nombreux dans ces bandes qui sont composées de
Blacks.
(72) Relevez les verbes qui sont utilisés pour situer ces lieux.
(73) Vous devez remplir la carte qui vous est distribuée.
(74) Vous devez utiliser tous les temps qui sont employés ci-dessus.
(75) Les bandes sont réservés à ceux qui sont arrivées
en France plus tard que les Maghrébins..
Pada struktur di atas, penggantian dengan pp menyebabkan kalimat dirasa “berat”.
f. Qui diikuti dengan verba tertentu, misalnya: faire, être,
avoir, pada konteks non-susastra atau beragam resmi. Penggunaan pp dianggap
”berat”. Hal ini berkaitan dengan gaya penulisan (style). Contoh:
(76) On dit de quelqu’un qui nous fait visite très brève:“il
est passé en coup de vent”.
(77) Les Français qui ont une position élevée dans la hiérarchie
sociale sont plus sportifs que les autres.
(78) J’aperçus une lettre cachetée qui était sur
la table.
(79) Les parents s’occupent beaucoup des enfants qui ont moins de 15 ans.
(80) Il est d’avance crtain qu’il va être promené au
bureau 223 de l’entresol au guichet B, ... jusqu’a ce qu’il
apprenne qu’un nouveau règlement le dispense du certificat demandé
pour en exiger un autre qui est le même que le précédent
mais nécessite des formalités différentes.
(81) Le probleme qui se pose est donc de savoir si on peut réussir une
société composée de minorités juxtaposées...
g. Verba setelah qui tidak berkala sama dengan kala verba klausa
induk. Contoh:
(82) Je ne crois pas que l’on puisse parler aujourd’hui du melting-pot,
qui supposait que nous allions tous devenir des “anglo-américains
blancs”.
h. Kalimat mengandung dua verba yang disambung dengan konyungsi.
Contoh:
(83) J’invente des machines qui prolongent et multiplient par mille mes
capacités physiques.
(84) Les médias ont fait de ce gand cancérologue une star qui
provoque et dérange certains Français...
(85) [APPEL DU 18 JUIN 1940] Moi, j’invite les officiers ... qui se trouvent
en territoire britannique ou qui viendraient à s’y trouver, à
se mettre en rapport avec moi.
II. Pengguna bahasa mempunyai pilihan antara penggunaan qui
atau pp pada konteks yang mengandung qui dan que seperti berikut:
(86) a. Madame Suzanne reçoit de la ... une lettre qui exige qu’elle
aille chercher une fiche individuelle d’état civil.
b. Madame Suzanne reçoit de la ... une lettre exigeant qu’elle
aille chercher une fiche individuelle d’état civil.
(87) a. La femme française peut admettre son infériorité
...à condition que les hommes lui jouent des scènes de respect
qui la valorisent.
b. La femme française peut admettre son infériorité ...à
condition que les hommes lui jouent des scènes de respect la valorisant.
Pilihan ini merupakan pilihan gaya penulisan karena ada pendapat yang berkaitan
dengan nilai rasa bahwa qui dan que memberi kesan bunyi yang terputus-putus:
[ki], [kY].
III. Pp yang harus digunakan, apabila hendak menekankan suatu
tindak yang tengah berlangsung atau suatu deskripsi, contoh:
(88a) En haut de la ville, se dresse un vieux château dominant la vallée.
Kehadiran pp memberi efek deskriptif. Pada klausa berpronomina qui:
(88b) En haut de la ville, se dresse un vieux château qui domine la vallée.
Makna deskriptif dominer tidak ada, maknanya menjadi pewatas. Vieux château
yang mana?
Contoh lain:
(89a) ...à travers les fenêtre..., on aperçoit une mer s’étendant
à perte de vue...
(89b) ...à travers les fenêtre..., on aperçoit une mer qui
s’étend à perte de vue...
Pada kalimat (89b), pengunaan qui mewatasi mer yang dimaksud dan menyiratkan
adanya mer lain.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil identifikasi konteks, klausa qui dan pp hanya dapat saling
menggantikan pada fungsi sebagai pewatas saja. Dengan demikian, yang perlu diperhatikan
adalah kaidah lain dari pp, selain sebagai pewatas (kaidah C.c). Kontekslah
yang menentukan penggunaan qui atau pp. Konteks dalam hal ini yang bukan hanya
kata-kata disekitar pp dan qui-verba, tetapi kalimat-kalimat yang terdapat sebelum
dan/atau sesudahnya.
Tidak adanya sistem ini di dalam bahasa Indonesia, membuat penutur bahasa Indonesia
menghadapi kesulitan dalam menghayati penggunaan pp. Salah satu cara adalah
dengan memperbanyak kegiatan membaca.
Pembelajaran klausa yang mengandung pp dan qui dapat dimulai dengan pemahaman
dan pengidentifikasian kaidah penggunaan pp dan qui; kemudian dilanjutkan dengan
pengontrasan kedua bentukan tersebut, dan terakhir dengan penerapan. Pada kegiatan
terakhir ini, mengingat kaidah yang telah dipaparkan, latihan tentu saja harus
dilakukan di dalam konteks yang lebih luas (dua kalimat atau satu paragraf),
bukan hanya dalam bentuk kalimat saja.
Contoh:
(90) Au mur, il y avait unre affiche d’un festival passé, représentant
une bande de forbans en alerte.
Apabila hanya kalimat ini saja yang disajikan, pp dapat diganti dengan qui karena
fungsinya sebagai pewatas affiche tertentu. Namun, marilah kita lihat kalimat
selanjutnya.
(91) C’était un dessin magnifique qui avait illustré L’île
au Trésor, le fabuleux roman de Robert-Louis Stevenson.
Karena kalimat tersebut mengandung qui, ditinjau dari segi gaya penulisan, sebaiknya
pp yang digunakan pada salah satu kalimat tersebut.
Pp bermakna deskriptif terlihat apabila kita menyajikan paragraf pendek. Contoh
:
(92) L’artiste avait réussi à faire passer dans son dessin
l’extraordinaire tension de ces hommes sur le qui-vive, faisant face à
l’ennemi comme une meute de loups défendant griffes et dents une
proie en temps de disette.
Konteks dari L’artiste..... sur le qui-vive, menentukan makna deskriptif
dan seolah-olah tindak tersebut tengah berlangsung pada gambar itu. Oleh karena
itu, pp-lah yang digunakan. Selain itu, contoh ini diambil dari sebuah roman
yang, tentu saja, menggunakan gaya penulisan susastra. Hasil penelitian awal
ini mudah-mudahan dapat dipakai oleh para pengajar sebagai pegangan dalam memberikan
latihan kepada para pemelajar bahasa Prancis.
DAFTAR PUSTAKA
I. SUMBER DATA
Courtillon, J. Dan G.D. de Salins. 1995. Libre Échange 1. Paris:Didier.
Courtillon, J. Dan G.D. de Salins. 1991. Libre Échange 2. Paris:Didier.
Failler, Jean. 1998. La cité des dogues. Quimper: Palémon.
Girardet, Jacky dan Jacques Pécheur. 2002. Campus 2. Paris: CLE International.
II. PUSTAKA ACUAN
Boularès, Michèle dan Jean-Louis Frérot. 1997. Grammaire
progrssive du français avec 400 exercices. Paris: CLE International.
(MB)
Chevalier, Jean-Claude et al. 1964. Grammaire du français contemporain.
Paris: Larousse. (GFC)
Dany, Max et al.1977. Secrétariat commercial. Paris: Hachette. (SC)
Girardet, Jacky et al. 1990. Le Nouveau sans frontière 3. Paris: CLE
International. (NSF)
Grégoire, Maïa dan Odile Thiévenaz. 1995. Grammaire progressive
du français avec 500 exercices. Paris: CLE International. (MG)
Grevisse, Maurice. 1980. Le Bon Usage.Paris: Duculot. (BU)
Maupassant, Guy. Mademoiselle Fifi. (MAUP)
Wagner, R.L. dan J. Pinchon. 1962. Grammaire du français classique et
moderne. Paris: Hachette. (GF)
III. KAMUS
Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Lingusitik. Jakarta: Gramedia.
Adresse du Rédacteur/Alamat Redaksi
PPPSI Pusat/Cadence
c/o. Centre Culturel Français de Bandung
Jl. Purnawarman No. 32, Bandung 40117
Courriel : pppsi_id@yahoo.fr
Site :www.apfi-pppsi.com