EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA PRANCIS
L’EVALUATION DANS L’APPRENTISSAGE DU FRANCAIS
ZULHERMAN - Universitas Negeri Medan
RÉSUMÉ
L'évaluation est un élément important totalement intégré
à l'apprentissage du début à la fin du cursus. Elle sert
à vérifier à quel point l'acquisition est faite, à
analyser les problèmes de l'apprenan, et à aider l' apprenant
afin que l'objectif préalablement fixé soit atteint.
I. Pengertian Evaluasi
Evaluasi adalah kegiatan mengukur dan menilai. Mengukur lebih besifat kuantitatif,
sedangkan menilai lebih bersifat kualitatif. Namun secara umum orang hanya mengidentikkan
kegiatan evaluasi sama dengan menilai, karena aktifitas mengukur sudah termasuk
didalamnya. Dan tak mungkin melakukan penilaian tanpa didahului oleh kegiatan
pengukuran (Arikunto, 1989). Pengukuran dapat dilakukan dengan cara membandingkan
hasil tes terhadap standar yang ditetapkan. Perbandingan yang telah diperoleh
kemudian dikualitatifkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Viviane dan Gilbert de Lansheere (1984) menyatakan bahwa evaluasi adalah proses
penentuan apakah materi dan metode pembelajaran telah sesuai dengan tujuan yang
diharapkan. Penentuannya bisa dilakukan salah satunya dengan cara pemberian
tes kepada pembelajar. Terlihat disana bahwa acuan tes adalah tujuan pembelajaran.
Evaluasi merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari proses pembelajaran.
Dia adalah salah satu alat untuk menentukan apakah suatu pembelajaran telah
berhasil atau tidak. Evaluasi keterampilan berbahasa umumnya dilakukan dalam
dua bentuk yaitu evaluasi secara tertulis (évaluation à l'écrit)
dan evaluasi secara lisan (évaluation à l'oral).
II. Fungsi Evaluasi
Dalam proses pembelajaran, terdapat tiga fungsi besar evaluasi. Tagliante (1996)
menyebutnya "Trois grands fonctions de l'évaluation." Tiga
fungsi itu adalah fungsi pronostik, fugsi diagnostik, dan fungsi sertifikasi.
Pertama, fungsi pronostik, yaitu tes awal proses pembelajaran untuk mengetahui
kondisi obyektif dari pembelajar. Hasil yang diperoleh digunakan untuk menentukan
dimana posisi pembelajar, misalnya apakah dia termasuk pemula dalam sebuah materi
atau dia sudah pantas menerima kelanjutan materi tersebut dalam pembelajaran
yang akan dilaksanakan.
Fungsi pronostik juga berguna untuk memprediksi kompetensi lanjutan yang mungkin
dapat dicapai oleh pembelajar. Artinya, dengan hasil tes yang ada, dapat direncanakan
kompetensi apa yang dapat dikuasai pada tahap berikutnya. Menyamaratakan kemampuan
pembelajar pada awal proses akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan pembelajar
itu. Selaku pembelajar, tiap individu berbeda-beda kemampuan dasarnya. Perbedaan
itu harus dicermati dan diakomodir dengan memberikan perlakuann yang berbeda
juga. Perbedaan itu meliputi pemberian materi lanjutan yang akan dibahas, penugasan,
dan penghargaan.
Penghargaan di sini lebih bersifat penguatan (réinforcement). Ini berhubungan
dengan kejiwaan. Penghargaan minimal yang bisa diberikan adalah dengan "ucapan
selamat" atas usahanya untuk mengetahui sesuatu lebih cepat dari orang
lain.
Dari segi proses dan pemilihan materi bahasan memang sedikit agak menyulitkan
pengajar dalam mengelola kelas. Namun itu akan berakibat kondusifnya suasana
kelas yang dapat mengarahkan pembelajarnya lebih berprestasi lagi. Akan tercipta
situasi yang penuh dengan kompetisi sehat yang menjadi pemicu bagi setiap individu
untuk tampil. Atmosfer akademik dalam suasana saling berkompetisi sangat berkontribusi
terhadap pencapaian target pembelajaran.
Memberi perlakuan yang sama berarti kurang menghargai kemampuan seseorang yang
lebih dari yang lainnya. Bagi pengajar, menyamakan atau generalisasi ini akan
mempermudah dia dalam bertugas. Namun efek yang bisa timbul adalah munculnya
kebosanan dan rasa pesimis dari mereka yang memiliki kemampuan lebih.
Yang kedua, fungsi diagnostik, yaitu evaluasi yang menganalisis kemampuann pembelajar
pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Fokusnya adalah membantu mereka
bagaimana supaya mampu memiliki kompetensi sesuai dengan yang diharapkan. Evaluasi
ini berlangsung sepanjang proses pembelajaran. Tujuan utamanya adalah membantu
pencapaian tujuan pembelajaran itu sendiri.
Evaluasi diagnostik, memungkinkan seorang pengajar mempertahankan metode yang
digunakan atau segera menggantinya. Fungsi ini dapat diwujudkan dalam bentuk
tes formatif, yang mengevaluasi pembelajar pada setiap sub pokok bahasan, atau
sub unit suatu pelajaran. Jadi, tes itu tidak hanya dilakukan sekali diakhir
suatu periode pembelajaran, melainkan ada tes-tes pengontrol atau pendamping
dari tes akhir. Bentuk dan pelaksanaannyapun tidak sekaku yang ada selama ini,
seperti mid semester, tidak, tapi bisa lebih dinamis, yang sedemikian rupa bisa
dirancang oleh pengajar.
Yang ketiga, fungsi sertifikasi. Evaluasi saat ini berguna untuk menyatakan
kedudukan atau peringkat seseorang dalam sebuah pembelajaran. Evaluasi dilaksanakan
di akhir sebuah periode pembelajaran, umpama di akhir semester, program, paket,
atau tingkat. Ujian DELF dan DALF juga termasuk di sini , walaupun tidak ada
proses pembelajaran resmi sebelumnya. Namun, dia lebih kepada pensertifikasian
tingkat kemampuan bahasa Prancis seseorang.
Fungsi sertifikasi dalam evaluasi pembelajaran sama sekali tidak menggiring
pembelajar untuk meningkatkan kemampuan akademisnya, karena dia dilaksanakan
terakhir. Tujuannya hanya menyatakan status dan mendapatkan laporan hasil belajar
atau sertifikat.
III. Evaluasi Dalam Pembelajaran
Scriven dalam Arikunto (1989) menyatakan bahwa harus ada hubungan yang erat
antara : 1) tujuan kurikulum dengan bahan pelajaran, 2) bahan pelajaran dengan
evaluasi, dan 3) tujuan kurikulum dengan evaluasi. Jadi evaluasi itu harus merujuk
kepada kurikulum dan bahan pelajaran. Hubungan evaluasi terhadap kurikulum dan
bahan pelajaran adalah sebuah hubungan yang saling kontrol. Kalau materi pelajaran
sudah relevan dengan tujuan pembelajaran yang tercantum dalam kurikulum, maka
evaluasi yang berhubungan dengan materi akan secara otomatis berhubungan dengan
kurikulum. Namun jika materi pelajaran tidak relevan dengan kurikulum, maka
tes yang dibuat berdasarkan materi tidak akan menyokong tujuan kurikulum. Agaknya
itulah yang menyebabkan Scriven menegaskan bahwa perlunya ada hubungan antara
tiga komponen itu.
Kembali kepada Viviane dan de Lansheere di atas, mereka lebih menekankan bahwa
evaluasi itu adalah proses pengecekan apakah materi dan metode telah sesuai
dengan tujuan pembelajaran. Fokusnya tertuju kepada tujuan yang ada dalam kurikulum.
Materi dan metode merupakan sarana untuk pencapaian tujuan. Pemikiran mereka
ini bisa diformulasikan kedalam bentuk lain bahwa pencarian, pembahasan, dan
perumusan materi adalah untuk menjawab persoalan dalam evaluasi yang mengacu
pada tujuan pembelajaran.
Konsep mereka di atas, secara sederhana dapat diaplikasikan dalam sebuah contoh
kongkrit proses pembelajaran bahasa Prancis berikut:
| Tujuan Pembelajaran | Evaluasi | Materi/Bahan/Sumber Pelajaran |
| 1. Mahasiswa dapat menjelaskan secara lisan wilayah pariwisata di Sumatera Utara dalam bahasa Prancis | 1. Sebut dan gambarkan kondisi fisik daerah-daerah pariwisata terkenal di Sumatera Utara, minimal 7 buah, dalam bahasa Prancis secara lisan! |
1. Buku-buku kepariwisataan Sumut 2. Teknik komunikasi lisan 3. Teori dan praktek Terjemahan |
Dari contoh diatas terlihat bahwa ada hubungan yang erat diantara tiga komponen
itu, yakni tujuan, evaluasi, dan materi. Yang menarik adalah pemilihan materinya.
Poin nomor 2 dan 3 agaknya adalah sesuatu yang muncul dari kreatifitas pengajar.
Pengajar harus benar-benar mengarahkan mahasiswa untuk memperkaya referensinnya
dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran.
Teknik komunikasi secara lisan, seperti menjelaskan sebuah obyek wisata harus
dimiliki oleh mahasiswa. Apalagi ini nanti pada gilirannnya akan berguna bagi
mereka yang berprofesi sebagai pemandu wisata. Teknik yang benar dan menarik
akan meningkatkan kualitas penyampaiannya, seperti variasi intonasi, pengaturan
interval, ekspresi atau mimik, dan jiwa humoristis.
Teori dan praktek terjemahan disini akan sangat terpakai, apalagi kalau referensi
yang ada tentang wilayah pariwisata Sumatera Utara menggunakan bahasa Indonesia.
Kalau ada mata kuliah khusus tentang penerjemahan, maka pengajar tinggal mengarahkan
mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu penerjemahan mereka ke dalam mata kuliah
ini.
Posisi evaluasi dalam pembelajaran dapat penulis gambarkan secara jelas melalui
skema berikut:
![]() |
Dari skema terlihat bahwa evaluasi tetap mengacu kepada rencana awal. Dia tidak
dibuat berdasarkan proses perkembangan pembelajaran yang berlangsung, tapi berdasarkan
perencanaan awal. Proses pembelajaran hanya berfungsi sebagai sarana pencapaian
tujuan. Mereka yang gagal harus mengikuti proses kembali, sedangkan yang sudah
berhasil, dapat mengikuti tahap berikutnya.
Pada tulisan ini, penulis ingin memperdalam bahasan bagaimana fungsi diagnostik
sebuah evaluasi bisa terwujud. Fungsi pronostik dan sertifikasi tidak terlalu
banyak berkontribusi terhadap keberhasilan pembelajar. Konsep fungsi diagnostik
menurut Tagliante (1996) adalah sebagai berikut :
1. Evaluasi bertujuan untuk menemukan kesulitan pembelajar dalam mengikuti pelajaran,
yang selanjutnya akan diberikan perlakuan yang tepat, sehingga tujuan pembelajaran
dapat dicapainya.
2. Evaluasi berlangsung selama proses pembelajaran.
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk merespon dua prinsip itu adalah :
Pertama, untuk menemukan kesulitan pembelajar dalam mencapai tujuan pembelajaran,
seorang pengajar dapat merancang sebuah tes yang benar-benar valid. Valid itu
maksudnya adalah mengukur apa yang hendak diukur (Arikunto,1989). Validitas
benar-benar berorientasi kepada hasil tes.
Wesche dalam Paul Cyr (1998) menjelaskan bahwa validitas itu merupakan proses
membandingkan kompetensi pembelajar dengan kompetensi harapan yang telah di
standarkan. Dalam pengertian yang lebih sedehana, dapat dilihat kamus Robert
Poche. Disana dinyatakan bahwa valid (validation) adalah kemampuan dalam melakukan
sesuatu. Jadi pengajar tak perlu membuat validitas soal sampai menggunakan rumus
korelasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson. Cukup dengan langkah-langkah
sederhana sebagai berikut :
a. Tetapkan tujuan pembelajaran.
b. Tentukan kompetensi yang harus dimiliki dengan mencantumkan standar minimal.
c. Tentukan jenis tesnya, lisan atau tertulis.
d. Bandingkan hasil tes dengan standar.
e. Temukan titik lemah pembelajar.
f. Buat Kesimpulan.
Hal yang akan diungkap dalam kesimpulan hanya dua, sesuai skema di atas, yaitu
berhasil atau gagal. Kalau berhasil dapat melanjutkan materi pada sesi berikutnya,
dan kalau gagal, mengulang. Yang dikatakan berhasil adalah mereka yang memperoleh
skor memenuhi standar minimal dari kompetensi yang ditetapkan. Dan proses mengulang
bagi yang gagal tidak mesti dia harus kuliah tambahan lagi, misalnya ada kuliah
sore, tidak. Tapi, harus ada kebijakan pengajar, umpama pemberian tugas atau
yang lainnya.
Kedua, evaluasi dilaksanakan sepanjang proses pembelajaran. Bentuknyapun tidak
sekaku dan seformal tes yang ada. Pengajar punya kebebasan menentukan bentuk
evaluasinya. Yang penting di sini adalah perencanaan dan pengorganisasiannya.
Jadi pembelajaran itu tidak hanya menganalisis, diskusi, dan presentasi selama
satu semester, tapi ada evaluasi yang benar-benar mengiring pembelajar agar
dia berhasil dalam mencapai tujuan.
Paul Cyr (1998) mensinyalir bahwa dalam pengajaran bahasa Prancis sebagai bahasa
kedua atau bahasa asing, konsentrasi evaluasi adalah pada performansi. Evaluasi
diharapkan dapat menggiring mahasiswa mencari penyelesaian masalah dalam pemerolehan
bahasa. Prinsipnya adalah tes sebagai sarana untuk mencari peneyelesaian persoalan,
bukan tes itu yang menjadi persoalan. Kongkritnya bisa digambarkan sebagai berikut:
Jika mahasiswa takut menghadapi tes, maka berarti tes itu merupakan sebuah "masalah."
Disini tes tidak dapat menjalankan perannya sebagai penggiring untuk memecahkan
masalah yang sebenarnya dalam pembelajaran. Dan jika mahasiswa justru senang
dengan adanya tes, maka ini menunjukkan bahwa tes itu dapat menggiring mereka
kepada pemecahan masalah.
Secara umum mahasiswa agak takut dan kurang suka dengan yang namanya tes. Ini
hanya pengamatan penulis, belum melalui sebuah penelitian resmi. Ketakutan ini
menyebabkan mereka kehilangan akses untuk mengetahui lagi pada sisi mana mereka
sebenarnya lemah. Kecenderungan mahasiswa yang dapat diamati adalah merasa senang
kalau tesnya gampang, dan sangat "stress" kalau tesnya sukar. Padahal,
tes yang sukar itu sesungguhnya yang akan membantu mereka meningkatkan kualitas
pembelajarannya.
Dalam pencapaian tujuan pembelajaran itu, istilah tes sukar dan mudah tidaklah
seharusnya menjadi fokus perhatian pengajar, apalagi tes dignostik. Patokan
tes adalah tujuan pembelajaran. Tes diagnostik dilaksanakan adalah untuk mengetahui
kelemahan pembelajar dan pemberian perlakuan yang tepat. Jadi, mudah sukarnya
soal disini, buat sementara waktu harus dikesampingkan dulu.
Berbeda dengan fungsi sertifikasi, tes di sini memutuskan status pembelajar,
apakah dia lulus, mengulang, atau gagal sama sekali. Aktivitas yang mengikuti
tes itu sepenuhnya dipulangkan kepada pembelajar. Dengan kata lain, fungsi sertifikasi
adalah "ketok palunya" proses belajar mengajar dalam suatu periode.
IV. Penutup
Fungsi diagnostik evaluasi ternyata sangat efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
Diagnostik dalam pendidikan bertujuan untuk memberikan perlakuan yang tepat
kepada peserta didik, dalam rangka menggiring mereka untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dan adalah sesuatu yang aneh, ketika digiring untuk mencapai tujuan, mereka
ketakutan. Mungkin ketakutan ini timbul akibat trauma masa lalu, di mana setiap
ada tes, yang terjadi selalu proses justifikasi bukan rehabilitasi.
Fungsi diagnostik evaluasi dalam pembelajaran dapat terwujud bila evaluasi dilakukan
tidak hanya diakhir suatu periode pembelajaran, tapi terus berlangsung sepanjang
proses pembelajaran dalam periode tersebut. Kemudian, tes itu harus valid, artinya
benar-benar mengukur apa yang hendak diukur.
V. Daftar Pustaka
ARI KUNTO, Suharsimi. 1989 : Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta, Bina
Aksara.
CYR, Paul. 1998 : Les Strategies d'apprentissage, Paris, CLE International.
De LANDSHEERE, Viviane et Gilbert. 1984 : Définir les objectifs de l'éducation,
Paris, PUF.
TAGLIANTE, Christine. 1996 : L'evaluation, Paris, CLE International.
____________ 1995 : Le Robert de Poche, Dictionnaire, Paris.
Adresse du Rédacteur/Alamat Redaksi
PPPSI Pusat/Cadence
c/o. Centre Culturel Français de Bandung
Jl. Purnawarman No. 32, Bandung 40117
Courriel : pppsi_id@yahoo.fr
Site :www.apfi-pppsi.com