<<

PERMAINAN KATA NAMA-NAMA TOKOH DALAM KOMIK ASTERIX : ADAPTASI PENERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA
JEUX DE MOTS DES NOMS DES PERSONNAGES DANS LES BANDES DESSINNES ASTERIX : SON ADAPTATION EN INDONESIEN

SRI ENDAH SETIA RINI - Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) LIA Yogyakarta

RÉSUMÉ
Les jeux de mots sont des spécialités de ls Bande Dessinée 'Asterix'. L'un d'eux est le nom de sa personnalité qui est formé par quelques mots. Le nom composé n'est pas un nom général. Il est difficile de le traduire en défendant l'équivalence du sens entre le nom de source et le nom cible. C'est pourquoi la traductrice utilise l'adaptation.
Mots clés: Jeux de mots, adaptation, Asterix, équivalence

1. Pendahuluan
Terjemahan merupakan jembatan penghubung antar bangsa yang berbeda bahasa dan budayanya. Melalui terjemahan, suatu bangsa dapat mempelajari kemajuan ilmu pengetahuan dan budaya dari bangsa-bangsa lain. Melalui terjemahan pula komunikasi antar bangsa bisa terjalin. Transfer ilmu pengetahuan dan budaya melalui terjemahan ini bisa terjadi bila hasil terjemahannya dapat mencapai sasaran dengan tepat sesuai dengan sumber aslinya.
Pergeseran-pergeseran dalam penerjemahan sangat mungkin terjadi karena perbedaan bahasa satu dengan bahasa yang lain dan budaya satu bangsa dengan budaya bangsa lain. Pergeseran-pergeseran terjadi agar hasil terjemahannya tidak terlalu kaku dan tidak terasa sebagai hasil karya terjemahan karena yang terpenting dalam penerjemahan adalah sampainya pesan teks sumber (Tsu) ke teks sasaran (Tsa). Pembaca suatu karya terjemahan kadang-kadang adalah pembaca yang tidak tahu sama sekali akan bahasa Tsu. Pembaca akan membaca karena rasa ingin tahunya maupun karena ketertarikan pada sebuah karya yang tidak akan dapat dibaca dalam bahasa asli (Savory, dalam Hartono, 2003:19).
Agar hasil terjemahan suatu karya menjadi baik, penerjemah harus menyelaraskan teks dengan nuansa tertentu dengan memilih kosa kata yang tepat tergantung jenis teks yang diterjemahkan. Nuansa di sini adalah nuansa khas bahasa sumber (Bsu), yaitu apakah teks itu bernuansa penting, sungguh-sungguh, main-main, akrab, imajinatif, dll (Fuller dalam Hartono, 2003:19). Selain menyelaraskan nuansa, penerjemah harus mempertimbangkan sasaran pembaca, apakah sasarannya adalah orang dewasa, orang dengan keahlian tertentu, anak-anak usia remaja, atau anak-anak kecil, dengan demikian benar tidaknya suatu karya terjemahan menjadi relatif, tergantung untuk siapa dan untuk tujuan apa terjemahan dilakukan, yang terpenting adalah kesamaan reaksi pembaca Tsu dan Tsa. Namun tentu saja terjemahan tidak bisa dilakukan hanya dengan mempertimbangkan pembacanya saja tanpa mentransfer isi Tsu dengan baik. Transfer isi adalah hal yang terpenting dalam karya terjemahan, namun penerjemah diperbolehkan menggunakan kealamiahan bahasanya sendiri agar hasil terjemahannya juga sama menariknya dengan karya aslinya.
Agar hasil terjemahannya menarik, seorang penerjemah harus pandai-pandai menyesuaikan dengan jenis teks yang akan diterjemahkannya. Jika penerjemah berhadapan dengan teks yang bernuansa humor, maka dia harus menerjemahkannya dengan teks yang bernuansa humor juga, dan jika penerjemah menemui teks yang ditujukan untuk anak-anak, maka bahasa yang digunakan oleh penerjemah haruslah bahasa yang ditujukan untuk anak-anak. Hasil terjemahan teks yang ditujukan untuk anak-anak sebagian besar diadaptasi agar ceritanya lebih mudah untuk dipahami. Adaptasi adalah salah satu bentuk penerjemahan yang sudah disesuaikan dengan budaya setempat. Hal-hal yang diadaptasi salah satunya adalah nama-nama tokoh dalam karya tersebut (Anni Airaksinen, http://www.uta.fi/~aa63343/prosewww.txt).
Salah satu teks yang digemari anak-anak maupun orang dewasa adalah komik Asterix yang Tsu ditulis dalam bahasa Prancis. Komik ini menarik karena tokoh-tokohnya yang unik dengan nama-nama yang menarik seperti Malarius, Kuplukopiah, dan Bhatukrhejanhus. Nama-nama tersebut bukanlah nama yang lazim digunakan sebagai nama tokoh, sehingga menimbulkan ketertarikan untuk melihat nama aslinya yang ditulis dalam bahasa Prancis. Malarius merupakan terjemahan dari Garovirus, Kuplukopiah berasal dari Pourkoipah, dan Bhatukrhejanhus berasal dari nama Claudius Malosinus. Garovirus, Pourkoipah, dan Claudius Malosinus juga merupakan nama yang tidak lazim digunakan sebagai nama dalam bahasa Prancis. Arti dari nama-nama tersebut adalah Garovirus (Gare au Virus) yang berarti 'bertahan terhadap virus', Pourkoipah (Pourquoi pas) berarti 'mengapa tidak', dan Claudius Malosinus (Mal au sinus) berarti 'sakit sinusitis'. Fenomena ini oleh Bertrand Richet (www.asterix.com/panoramix/universite/equiv.htm) disebut dengan Jeux de Mots atau dalam bahasa Jawa hampir sama dengan 'plesetan'. Bila dibandingkan, antara nama asli bahasa Prancis dan hasil terjemahannya tidak equivalence. Garovirus (bertahan terhadap virus) diterjemahkan menjadi Malarius, Pourkoipah (mengapa tidak) diterjemahkan menjadi Kuplukopiah, dan Claudius Malosinus (sakit sinusitis) menjadi Bhatukrhejanhus. Di dalam komik Asterik ini sebagian besar tokohnya ditulis dengan Jeux de Mots, dan hasil terjemahannya jugamemunculkan nama-nama tidak lazim yang tidak equivalence dengan nama aslinya. Hal ini lah yang menarik untuk diteliti lebih lanjut.

2. Tinjauan Pustaka
2.1. Jeux de Mots

Komik Asterix adalah komik yang ditulis oleh René Goscinny dan ilustrator Albert Uderzo dalam bahasa Prancis. Komik ini sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Keunikan komik ini adalah adanya penggunaan Jeux de mots atau permainan kata. Menurut Bertrand Richet dalam www.asterix.com/panoramix/universite/equiv.htm, di dalam 24 komik Asterix terdapat 750 permainan kata. Permainan kata tersebut digunakan untuk nama tokoh, aksen dan dialek, lagu, dan kutipan karya sastra, yang menjadikan komik ini bernuansa humor dan menjadi sulit untuk diterjemahkan karena adanya perbedaan humor bahasa Prancis dan bahasa-bahasa lainnya.
Dalam komik ini pengarang menciptakan nama-nama tokohnya bukan dengan nama-nama yang lazim digunakan sebagai nama seperti Yves, Michel, Marie, etc, namun menggunakan permainan kata-kata seperti Comix yang berasal dari kata Comique; Tournedix berasal dari kata Tourne-disque; dan Cinématograf berasal dari kata Cinématographe. Nama-nama tersebut merupakan permainan dari pengucapan kata-katanya.
Selain dari pengucapannya, permainan kata-katanya dibentuk juga dari gabungan beberapa kata seperti Distributiondeprix yang berasal dari distribution de prix; Petitélégrafix berasal dari kata petit télégraphique; dan Harenbaltix berasal dari Hareng baltique. Bila diamati, permainan kata tersebut mempunyai pola tertentu yaitu kata yang diakhiri dengan -que diubah menjadi -x, kata yang berakhiran -phe diubah menjadi -f. Akhiran -ix sebagai penanda bangsa Galia. Penanda bangsa Romawi, namanya diakhiri dengan -us, sebagai contohnya Cumulonimbus berasal dari cumulus nimbus; Claudius Metrobus; dan Malentendus yang berasal dari kata mal entendus. Nama-nama tokoh Romawi sering menggunakan nama depan Caïus, Claudius, Gracchus atau Tullius.

2.2. Terjemahan nama diri
Nama merupakan hal yang pribadi. Tiap-tiap individu mempunyai nama sebagai pembeda individu satu dengan lainnya. Nama bisa digunakan untuk mengetahui kebangsaan orang tersebut, sebagai contoh nama Yves adalah orang Prancis, Hans adalah orang Jerman, Yoko orang Jepang, dan Sri adalah orang Indonesia. Nama adalah objek yang tidak termasuk dalam bahasa, yang tidak mempunyai arti maupun konotasi tertentu, sehingga nama tersebut tidak dapat diterjemahkan. Menurut Newmark (1988:70-71) nama-nama tidak bisa diterjemahkan kecuali nama-nama yang sudah dikenal dalam budaya bahasa sasaran (Bsa) sebagai contohnya Lewis (bahasa Inggris) dapat diterjemahkan dalam bahasa Prancis menjadi Louis. Nama-nama dalam cerita rakyat dan buku anak-anak sering diterjemahkan. Namun, jika nama tersebut menunjukkan tokoh yang mewakili suatu negara, nama tersebut tidak diterjemahkan. Nama diri yang sering diterjemahkan adalah nama-nama yang mempunyai konotasi tertentu. Salah satu cara yang digunakan dalam menerjemahkan nama yang mempunyai konotasi pada bahasa sumber (Bsu) adalah dengan mengadaptasikannya ke dalam Bsa. Adaptasi adalah salah satu bentuk penerjemahan yang sudah disesuaikan dengan budaya setempat.
Menurut Anni Airaksinen (http://www.uta.fi/~aa63343/prosewww.txt), nama dalam buku anak-anak biasanya diadaptasi karena pembacanya akan kesulitan mengucapkan nama-nama asing dan untuk lebih memudahkan pembaca memahami karya tersebut. Nama dengan arti khusus lebih sulit untuk diterjemahkan. Terjemahan buku anak-anak akan menjadi lebih sulit lagi jika buku tersebut bernuansa humor karena perbedaan budaya akan membuat perbedaan daya tangkap masyarakat. Komedi bahasa Prancis berbeda dengan humor bahasa Indonesia, oleh karena itu terjemahan buku bernuansa humor harus diadaptasi dalam bahasa sasaran agar pembaca tetap mendapat nuansa humor dalam buku tersebut. Hasil adaptasi sering tidak equivalence dengan bahasa sumbernya.

2.3. Equivalence
Equivalence atau ekuivalensi menurut Harimurti Kridalaksana (1993:50) adalah makna yang sangat berdekatan, lawan dari kesamaan bentuk, sedangkan ekuvalensi dinamis adalah kualitas terjemahan yang mengandung amanat naskah asli yang telah dialihkan sedemikian rupa dalam bahasa sasaran sehingga tanggapan dari reseptor sama dengan tanggapan reseptor terhadap amanat naskah asli. Mencermati penjelasan tersebut, ekuivalensi terjemahan terjadi jika makna teks asli dan teks terjemahan sama dan tanggapan pembaca teks asli dan teks terjemahan juga sama, tetapi terjemahan yang memiliki ekuivalensi 100% dengan teks aslinya tidak ada.
Nama-nama tokoh dalam komik ini menggunakan jeux de mots (permainan kata), sehingga nama-nama tersebut mempunyai konotasi. Sebagai contohnya: Distributiondeprix merupakan permainan kata dari distribution de prix (arti:pembagian hadiah). Jika dilihat dari ekuivalensi makna, terjemahannya tidak equivalence karena nama tersebut diterjemahkan Perantarix. Contoh lain adalah Ordralfabetix berasal dari ordre alphabetique (arti:urutan alfabet). Nama tokoh ini tidak diterjemahkan padahal namanya mempunyai konotasi. Jika kita membaca versi bahasa Indonesianya, kita hanya menangkap kata 'alfabet' saja.
Beberapa nama tokoh memang memiliki persamaan makna seperti Tomatojus menjadi Justomatus, Panoramix, dan Assurancetaurix. Dengan membaca nama Panoramix pembaca karya terjemahan tahu bahwa yang dimaksudkan adalah permainan kata dari kata panorama, dan Assurancetaurix berasal dari kata Assurance atau Asuransi. Jumlah nama yang equivalence dengan karya aslinya tidak begitu banyak karena sebagian besar terjemahan nama-nama tokoh dalam komik ini tidak equivalence dengan aslinya. Banyaknya nama yang tidak equivalence ini disebabkan karena penerjemah ingin pembaca karya terjemahannya tetap mendapatkan nuansa humor dengan menggunakan permainan kata bahasa Indonesia meskipun maknanya tidak equivalence.

3. Metode Penelitian
Data yang diperoleh sebagai dasar penelitian ini berupa nama-nama tokoh dalam komik Asterix versi asli (bahasa Prancis) sejumlah 15 komik dan terjemahannya (bahasa Indonesia) yang diterjemahkan oleh A. Rahartati B.S. sejumlah 15 komik, sehingga total buku yang dipergunakan sebagai sumber data sejumlah 30 komik.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dengan cara membaca komik terjemahan dan membandingkan dengan komik aslinya. Data yang diperoleh dicatat dengan teknik catat pada kartu-kartu data dan kemudian data berbahasa Prancis dikonsultasikan kepada penutur asli bahasa Prancis untuk mengetahui asal kata dan arti nama-nama tokoh yang dijadikan data penelitian. Data yang telah dikonsultasikan tersebut diolah dengan metode padan translational yang menggunakan alat penentu di luar, terlepas dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik dasar yaitu dengan memilahkan unsur-unsur penentu dan dilanjutkan dengan teknik lanjutan hubung banding memperbedakan (Sudaryanto, 1993:13-52).

4. Terjemahan Nama Tokoh Komik Asterix
Data yang digunakan diambil dari 15 komik Asterix berbahasa Prancis dan 15 komik terjemahannya dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh A. Rahartati Bambang Suryo. Dalam terjemahan komik tersebut, akhiran -ix untuk bangsa Galia dan -us untuk bangsa Romawi tetap dipertahankan, sedangkan nama depan bangsa Romawi tidak diterjemahkan. Untuk bangsa-bangsa lain, terjemahan namanya sebagian besar mempertahankan akhirannya. Sebagai contohnya:
Amérix ? Chluritix (bangsa Galia),
Ingcongrus ? Okabbus (bangsa Romawi),
Relax ? Relax (bangsa Inggris),
Boetanix ? Boetaijix (bangsa Belgia).
Setelah semua data dari terjemahan komik-komik tersebut dikumpulkan dan dianalisa, nama-nama terjemahan tokoh-tokoh tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

4.1. Tidak diterjemahkan
Beberapa nama tokoh tidak diterjemahkan. Nama-nama yang tidak diterjemahkan dapat dibagi lagi menjadi:

4.1.1. Tokoh Utama
Nama-nama yang menjadi tokoh utama tidak diterjemahkan. Nama-nama tersebut adalah Asterix, Obelix, Panoramix, Abraracourcix, Assurance-taurix. Selain lima tokoh utama, tokoh-tokoh yang sering sekali muncul juga tidak diterjemahkan, yaitu: Cetautomatix, Ordralfabetix, Idefix, Agecanonix, Bonemine, Falbala dan Vercingétorix
Meskipun nama-nama tokoh tersebut memiliki konotasi, namun penerjemah tidak menerjemahkannya karena seringnya nama tersebut keluar di komik. Nama Asterix tidak diterjemahkan karena selain sebagai tokoh utama, Asterix telah menjadi mitos di Prancis dan bahkan di Prancis dibuat taman bermain yang sangat dibanggakan masyarakat Prancis yaitu Parc d'Asterix. Vercingétorix adalah pahlawan bangsa Galia yang sangat berani, sehingga untuk menghargai kepahlawanannya, maka nama tersebut tidak diterjemahkan. Selain alasan-alasan tersebut, tokoh yang sering keluar tidak diterjemahkan agar pembaca mempunyai kesamaan pengetahuan tentang komik tersebut. Di manapun kita berada, semua orang mengenal Asterix, Obelix, dll.

4.1.2. Nama dewa
Nama Dewa yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia tidak diterjemahkan, karena Dewa adalah sosok suci. Nama dewa tersebut adalah Toutatis, Belenos, Sucellus, Toranis, Esus, Epona, Séquana, vayu, Kala, Surya, dll.

4.1.3. Nama tersebut dikenal dalam bahasa Indonesia
Beberapa nama tokoh komik ini mempunyai persamaan dengan bahasa Indonesia seperti Herpes, Diagnostix, Informatix, Tifus, Antibiotix, Iznogoud, Epidemais. Nama-nama tersebut tetap dikenal dalam bahasa Indonesia meskipun dengan mempertahankan permainan kata seperti Informatix, dalam bahasa Indonesia dikenal kata Informasi sehingga tanpa menerjemahkan katanya pun pembaca Indonesia dapat menangkap sisi humornya. Sedangkan Iznogoud berasal dari permainan kata bahasa Inggris It's not good, nama tersebut tidak diterjemahkan karena ada asumsi pembaca sudah mengerti bahasa Inggris, walaupun sebenarnya adaptasi ini kurang mengena untuk pembaca anak-anak atau orang yang tidak mengenal bahasa Inggris.

4.1.4. Nama yang tidak mempunyai konotasi
Nama yang tidak mempunyai konotasi atau nama yang memang diambil dari nama orang, tidak diterjemahkan. Nama-nama tersebut adalah Brutus, Aristophane, Plaute, Diorix, Terence. Nama Diorix, berasal dari nama perancang Prancis terkenal Christian Dior yang ditambah akhiran -ix karena Diorix adalah bangsa Galia.

4.2. Nama yang diterjemahkan
Hanya satu nama yang diterjemahkan sesuai dengan bahasa Prancisnya yaitu Tomatojus menjadi Justomatus. Nama tersebut diterjemahkan dan sedikit disesuaikan dengan penambahan akhiran -us karena tokoh ini adalah bangsa Romawi.

4.3. Adaptasi nama-nama tokoh
Sebagian besar nama-nama tokoh dalam komik ini diadaptasikan dengan budaya bangsa Indonesia agar lebih mudah dipahami oleh pembacanya. Adaptasi tersebut meliputi:

Nama bahasa Prancis
Terjemahan
Jules César Julius Kaisar
Archimède Archimedes
Isaïe Yesaya
Yahvé Yahwe
David David
Goliath Goliat

4.3.1. Nama Dewa
Beberapa nama dewa diadaptasi karena dalam bahasa Indonesia memiliki kata-kata tersebut seperti Mercure menjadi Merkurius dan Jupiter menjadi Yupiter. Nama dewa yang diadaptasi adalah nama-nama dewa bangsa Romawi.

4.3.2. Nama-nama orang
Beberapa nama tokoh di komik ini sudah ada dalam bahasa Indonesia, sehingga penerjemah tinggal menyesuaikan dengan nama yang ada dalam bahasa Indonesia. Nama tersebut adalah:
Nama bahasa prancis Terjemahan
Jules César Julius Kaisar
Archimède Archimedes
Isaïe Yesaya
Yahvé Yahwe
David David
Goliath Goliat

4.3.3. Pengucapannya sama
Pengucapan nama bisa menjadi dasar pengadaptasian nama seperti Comix (berasal dari kata Comique yang berarti lucu) jika diucapkan dengan pengucapan Indonesia menjadi komik, sedangkan jika diucapkan dengan pengucapan Prancis adalah [komis]. Iélosubmarine adalah permainan kata dari Yellow Submarine yang merupakan judul lagu kelompok Beatles yang sedang terkenal pada masa itu. Lagu tersebut juga terkenal di Indonesia sehingga nama tersebut diadaptasi menjadi Yelosubmarine. Cara serupa diterapkan dalam Maelankolix yang diadaptasi menjadi Maylankolix, meskipun dalam bahasa Indonesia ada kata melankolis, namun pembaca sudah memahaminya.
4.3.4. Menggunakan sebagian pengucapan.
Hampir sama seperti sub-sub bab 4.3.3. adaptasi bisa juga dilakukan berdasarkan pengucapan. Dasar pengucapannya adalah tulisan bahasa Prancis yang diucapkan dengan bahasa Indonesia, kemudian diambil sebagian dari pengucapan tersebut, yang kemudian diadaptasikan dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh: Pourkoipàh, dengan membaca sekilas pembaca akan teringat dengan kata Kopiah (tutup kepala) yang kemudian diadaptasi menjadi Kuplukopiah. Contoh lain adalah Josué Pazihalé menjadi Yosue Bangete, diambil dari pengucapan Josué yang diubah menjadi Yosue (dari bahasa Jawa yo suwe) yang artinya 'ya lama', kemudian ditambah dengan Bangete (sekali), sehingga menjadi Yosue Bangete (lama sekali). Adaptasi menjadi Yosue Bangete akan menyulitkan pembaca yang bukan berasal dari daerah DIY maupun Jawa Tengah. Mereka tidak akan menangkap nuansa humor dari nama tersebut, sehingga hanya menganggap sebagai nama yang tidak mempunyai konotasi tertentu.

4.3.5. Berdasar sifat tokoh di komik
Sifat tokoh di komik dapat menjadi acuan penerjemah dalam melakukan adaptasi nama tokoh. Sebagai contohnya Tullius Détritus (arti:kotoran/sampah) diadaptasi dengan Akal Busyukus karena tokoh ini mempunyai banyak akal busuk yang membuat orang-orang disekitarnya dapat diadu domba dengan mudah.

4.3.6. Berdasar pekerjaan tokoh
Pekerjaan tokoh juga dapat menjadi dasar pengadaptasian nama tokoh lain seperti Amérix (asal kata: Amérique, arti:amerika) diadaptasi menjadi Chluritix karena tokoh tersebut adalah seorang pengrajin clurit, dan Zerozerosix menjadi nolnolpituix karena Zerozerosix adalah seorang agen rahasia berkebangsaan Galia. Adaptasi namanya menjadi nolnolpituix yang merupakan permainan kata dari nol nol tujuh, seorang detektif Inggris yang filmnya sudah sangat terkenal.
4.3.7. Berdasar nama tokoh yang terkenal pada masa itu.
Adaptasi nama tokoh Asterix ini ada yang diambil dari nama tokoh yang terkenal pada masa diterjemahkannya komik ini. Sebagai contoh: Titus Residus (arti:residu) menjadi Asymunius, Pourquépix (landak) menjadi Unyhilix, dan Maestria menjadi Maestria Youpilatula. Asmuni, Unyil, dan Yopi Latul adalah nama-nama pelawak, sandiwara boneka, dan penyanyi yang pada masa itu sangat terkenal. Kesulitan ditemui untuk pembaca masa sekarang, karena mereka tidak mengenal tokoh-tokoh tersebut.

4.3.8. Berdasarkan gambar tokoh di komik
Gambar di dalam komik bisa dijadikan referen pengadaptasian. Bentuk fisik tokoh dalam gambar menjadi acuan dalam pengadaptasian. Contoh: Avoranfix menjadi Ghemukphendix dan Lentix menjadi Chlanamlorotix.

Bila kita amati gambar di atas, gambar tokoh tersebut digunakan sebagai acuan adaptasi nama tokoh. Tokoh bernama Avoranfix bertubuh gemuk dan pendek sehingga diadaptasi menjadi Ghemukphendix, dan tokoh satunya bernama Lentix selalu memegangi celana seperti akan melorot sehingga penerjemah menerjemahkannya menjadi Chlanamlorotix.

Contoh yang lain adalah Monosyllabix yang diadaptasi menjadi Semamppix karena badannya yang tidak tinggi dan Petitélégrafix diadaptasi menjadi Ghedix karena tubuhnya yang tinggi besar.

4.3.9. Tanpa referen
Adaptasi sebagian besar nama dalam komik ini tidak mempunyai referen tertentu atau diadaptasikan secara bebas. Tokoh Marcus Perrus (nama burung) diterjemahkan menjadi Bholukhukhus yang berasal dari kata bolu kukus (nama makanan). Contoh lain adalah Petitsuix (nama jenis keju) diadaptasikan menjadi Tiphu mushlihattix. Dari arti katanya, kedua contoh di atas sama sekali tidak sama dengan bahasa sumbernya, dari pengucapannya juga berbeda, gambarnya juga tidak sesuai dengan adaptasi namanya, sehingga dapat dikatakan bahwa dua nama tersebut diterjemahkan secara bebas tanpa ada acuan yang bisa digunakan.

5. Kesimpulan
Setelah melakukan penelitian, dapat diketahui bahwa sebagian besar nama-nama tokoh di komik Asterix diterjemahkan dengan menggunakan adaptasi karena jika nama-nama tokoh tersebut, terutama yang berkonotasi tertentu, tidak diterjemahkan maka pembaca komik terjemahan tidak akan mendapatkan nuansa humornya. Beberapa adaptasi nama tokohnya mempunyai referen seperti sifat tokoh, gambar tokoh, pengucapan yang mirip atau memang sudah dikenal dalam bahasa Indonesia.
Sebagian besar nama tokoh dalam komik ini diterjemahkan tanpa adanya referen, namun penerjemah tetap mempertahankan pola permainan kata seperti karya aslinya. Namun, penerjemah sering mengadaptasikan nama-nama tokoh tersebut dengan bahasa yang kurang lazim, sehingga dapat membuat pembaca tidak mengerti nuansa humor nama tersebut. Penerjemah secara bebas mengadaptasi nama-nama tersebut sehingga sebagian besar hasil terjemahannya tidak equivalence dengan karya aslinya karena yang diutamakan oleh penerjemah adalah hasil terjemahannya tetap bernuansa humor.

DAFTAR PUSTAKA
Hartono. (2003). Belajar Menerjemahkan, Teori dan Praktek. Malang: UMM Press.
Kridalaksana, Harimurti. (1993). Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Newmark, Peter. (1988). Approaches to Translation. New York: Prentice-Hall.
Robert, Paul. (1993). Le Petit Robert Dictionnaire de la Langue Française. Paris: Dictionnaires le Robert.
Sudaryanto. (1993). Metode dan Aneka teknik Analisis Wacana. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
www.asterix.com/panoramix/universite/equiv.htm

Sumber Data

No
Judul Buku Asli
Judul Buku Terjemahan
1 Obelix et Compagnie Obelix dan Kawan-Kawan
2 Astérix Chez Rahazade Asterix dan Puteri Rahazade
3 La Zizanie Sang Penghasut
4 Astérix chez Les Belges Asterix di Belgia
5 La Rose et Le Glaive Mawar dan Pedang Bermata Dua
6 Le Devin Sang Peramal
7 Le Domaine des Dieux Negeri Dewa-Dewa
8 La Serpe d'Or Asterix dan Sabit Emas
9 Astérix chez les Helvètes Asterix di tengah-tengah orang Swiss
10 Le Bouclier Arverne Perisai dari Arverna
11 Le Grand Fossé Desa Belah Tengah
12 Les Lauriers de César Mahkota Kaisar
13 Astérix et Le Chaudron Panci Sup Bawang
14 L’Odysée d’Asterix Perjalanan ke Mesopotamia
15 La Galére d’Obelix Obelix yang Malang

 


Adresse du Rédacteur/Alamat Redaksi
PPPSI Pusat/Cadence
c/o. Centre Culturel Français de Bandung
Jl. Purnawarman No. 32, Bandung 40117
Courriel : pppsi_id@yahoo.fr
Site :www.apfi-pppsi.com